Categories
  • Artikel Bali
  • artikel tour
  • Bali Aktivitas
  • Bali Bulan madu
  • Bali Combinations Tour
  • Bali Fullday Tour
  • Bali halfday Tour
  • Bali Paket Aktivitas
  • Bali Palace of Interest
  • Bali Round Trip
  • Bali Triple Aktivitas
  • blog
  • Costumer
  • Paket Bali Tour
  • Bali Menuju Pariwisata Berkelanjutan, Energi Bersih Jadi Masa Depan Pulau Dewata

    Agu 26 202615 Dilihat

    pariwisata berkelanjutan Bali

    Bali – Bali terus memperkuat langkah menuju pariwisata berkelanjutan dengan mendorong penggunaan energi bersih sebagai bagian penting dari masa depan Pulau Dewata. Upaya tersebut semakin nyata setelah pemerintah mendorong pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS), kawasan rendah emisi, kendaraan listrik, serta pemanfaatan energi baru terbarukan di berbagai sektor, termasuk industri pariwisata.

    Perkembangan terbaru datang dari program pengembangan PLTS berkapasitas hingga 1.000 megawatt peak (MWp) di Bali yang di lengkapi sistem penyimpanan energi atau Battery Energy Storage System (BESS) berkapasitas 3,3 gigawatt hour (GWh). Program tersebut di arahkan untuk mengurangi penggunaan bahan bakar minyak impor sekaligus memperkuat pemanfaatan energi domestik.

    Langkah tersebut menjadi semakin penting karena Bali merupakan salah satu destinasi pariwisata utama Indonesia. Aktivitas hotel, vila, restoran, pusat perbelanjaan, transportasi, dan berbagai fasilitas wisata membutuhkan pasokan energi dalam jumlah besar.

    Energi Bersih Jadi Bagian dari Masa Depan Pariwisata Bali

    Pertumbuhan pariwisata membawa dampak positif terhadap ekonomi masyarakat. Namun, perkembangan industri wisata juga meningkatkan kebutuhan listrik dan penggunaan energi.

    Karena itu, transisi menuju energi bersih dipandang sebagai salah satu bagian penting dalam membangun pariwisata Bali yang berkualitas dan berkelanjutan. Pemerintah Provinsi Bali telah menetapkan lima kawasan sebagai proyek kawasan rendah emisi, yakni Nusa Dua dan Kuta di Kabupaten Badung, Ubud di Gianyar, Sanur di Denpasar, serta Kepulauan Nusa Penida di Klungkung.

    Kelima kawasan tersebut di arahkan menerapkan konsep green energy, green mobility, green ecosystem, green tourism, dan green community. Dalam konsep energi hijau, hotel, restoran, vila, perkantoran, serta rumah di dorong untuk memanfaatkan PLTS.

    Kebijakan tersebut menunjukkan bahwa pariwisata berkelanjutan tidak hanya berbicara mengenai kebersihan destinasi, tetapi juga menyangkut sumber energi yang di gunakan dalam menjalankan aktivitas pariwisata.

    Potensi Energi Bersih Bali Sangat Besar

    Bali memiliki potensi energi bersih yang cukup besar. PT PLN mencatat potensi energi bersih di Pulau Dewata mencapai sekitar 2.000 megawatt (MW), sedangkan kebutuhan listrik Bali saat ini berada di kisaran 1.300 MW. Potensi tersebut berasal dari sejumlah sumber energi terbarukan, terutama tenaga surya dan angin.

    Besarnya potensi tersebut menjadi peluang untuk mengurangi ketergantungan terhadap energi fosil. Tenaga surya juga memiliki keunggulan karena Bali mendapatkan paparan sinar matahari sepanjang tahun.

    Pemanfaatan energi matahari dapat dilakukan melalui PLTS skala besar maupun panel surya pada bangunan. Dengan teknologi penyimpanan energi yang semakin berkembang, energi listrik yang di hasilkan pada siang hari dapat di kelola untuk mendukung kebutuhan sistem ketika produksi tenaga surya menurun.

    Peluang ini menjadi semakin strategis bagi Bali yang memiliki kebutuhan energi tinggi akibat aktivitas pariwisata.

    Target PLTS 1.000 MWp untuk Bali

    Pemerintah Provinsi Bali dan PLN kini mendorong pengembangan PLTS hingga 1.000 MWp. Untuk mendukung program tersebut, Pemprov Bali menyatakan siap menyiapkan lahan negara yang tidak produktif agar dapat di manfaatkan untuk pembangunan pembangkit energi bersih.

    Lahan yang berada di sejumlah wilayah, termasuk Buleleng dan Karangasem, menjadi bagian dari potensi yang dapat di optimalkan. Pemerintah daerah menilai pemanfaatan lahan negara yang tidak produktif dapat memberikan manfaat bagi masyarakat sekaligus mendukung kebutuhan energi Bali.

    Pengembangan PLTS tersebut juga tidak berdiri sendiri. Sistemnya di rencanakan terintegrasi dengan BESS sehingga energi yang di hasilkan dapat di simpan dan di gunakan untuk mendukung kestabilan sistem kelistrikan.

    Bagi Bali, program ini menjadi salah satu langkah strategis menuju kemandirian energi.

    PLTS 1 GWp Di nilai Bisa Kurangi Diesel

    Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyatakan bahwa penerapan PLTS sebesar 1 GWp di Bali di perkirakan dapat mengeliminasi penggunaan pembangkit listrik tenaga di esel (PLTD) di Pulau Dewata apabila seluruh program di terapkan secara serempak.

    Pengurangan pembangkit berbahan bakar diesel dapat memberikan manfaat terhadap lingkungan sekaligus mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil.

    Bagi sektor pariwisata, langkah tersebut juga memiliki nilai strategis. Citra Bali sebagai destinasi wisata dunia sangat bergantung pada kualitas lingkungan. Udara yang bersih, lingkungan yang terjaga, serta penggunaan energi yang lebih ramah lingkungan dapat memperkuat daya saing Bali sebagai destinasi pariwisata berkelanjutan.

    Hotel dan Restoran Mulai Di dorong Gunakan Energi Surya

    Sektor akomodasi menjadi salah satu bagian penting dalam transisi energi Bali. Hotel, vila, restoran, dan berbagai fasilitas wisata merupakan konsumen energi dalam jumlah besar.

    Penggunaan listrik untuk pendingin ruangan, penerangan, air panas, dapur, kolam renang, serta berbagai peralatan operasional membuat kebutuhan energi sektor pariwisata terus meningkat.

    Karena itu, pemanfaatan PLTS atap menjadi salah satu solusi yang di dorong pemerintah. Kebijakan kawasan rendah emisi Bali secara khusus memasukkan hotel, vila, restoran, perkantoran, dan rumah sebagai bagian dari bangunan yang di arahkan menggunakan energi surya.

    Pemanfaatan energi terbarukan di sektor pariwisata juga telah menjadi perhatian pemerintah daerah. Dinas terkait mencatat adanya pembahasan pemanfaatan energi terbarukan untuk usaha pariwisata, termasuk sektor Hotel, Restoran, dan Kafe atau HOREKA.

    Transportasi Listrik Dukung Wisata Rendah Emisi

    Pariwisata berkelanjutan tidak hanya berkaitan dengan sumber listrik. Transportasi juga menjadi bagian penting karena mobilitas wisatawan menghasilkan konsumsi bahan bakar dan emisi.

    Dalam konsep kawasan rendah emisi, Bali mendorong penggunaan Kendaraan Bermotor Listrik Berbasis Baterai (KBLBB). Transportasi listrik diharapkan dapat mengurangi emisi sekaligus memberikan pengalaman perjalanan yang lebih ramah lingkungan.

    Jika penggunaan kendaraan listrik berkembang bersama energi terbarukan, manfaatnya dapat menjadi lebih besar. Listrik untuk mengisi baterai kendaraan dapat semakin banyak berasal dari sumber energi bersih, sehingga rantai transportasi wisata menjadi lebih rendah emisi.

    Nusa Penida Jadi Contoh Pengembangan Energi Terbarukan

    Selain PLTS, Bali juga melihat potensi energi terbarukan dari laut. Pemerintah Provinsi Bali mendukung studi proyek percontohan energi laut terbarukan di Nusa Penida sebagai bagian dari upaya mewujudkan Bali mandiri energi.

    Pengembangan energi laut tersebut tetap perlu memperhatikan berbagai aspek, termasuk lingkungan, pariwisata, pelayaran, dan perikanan.

    Nusa Penida sendiri merupakan salah satu kawasan wisata yang terus berkembang. Karena itu, penerapan energi bersih di wilayah kepulauan memiliki nilai strategis, terutama untuk mendukung kebutuhan masyarakat sekaligus aktivitas wisata.

    Menuju Net Zero Emission 2045

    Pemerintah Provinsi Bali juga menargetkan pencapaian Net Zero Emission (NZE) 2045. Gubernur Bali Wayan Koster menyatakan PLTS menjadi salah satu strategi utama untuk mengurangi ketergantungan terhadap pembangkit berbahan bakar fosil dan mendorong kemandirian energi Bali.

    Target tersebut menjadi bagian dari visi pembangunan Bali yang mengedepankan lingkungan dan keberlanjutan.

    Bagi sektor pariwisata, pencapaian NZE bukan sekadar persoalan teknologi. Dibutuhkan perubahan pola konsumsi energi, pengelolaan transportasi, pengurangan sampah, efisiensi bangunan, serta keterlibatan masyarakat.

    Pariwisata berkelanjutan pada akhirnya harus memberikan manfaat ekonomi tanpa mengorbankan lingkungan dan kehidupan masyarakat lokal.

    Tantangan Menuju Pariwisata Hijau

    Meski memiliki peluang besar, transisi energi Bali tetap menghadapi sejumlah tantangan. Salah satunya adalah keterbatasan lahan. Harga tanah di Bali yang relatif tinggi membuat pembangunan fasilitas energi skala besar membutuhkan perencanaan yang matang.

    Pengembangan energi terbarukan juga harus memperhatikan karakter geografis Bali. Pembangunan pembangkit tidak boleh mengorbankan kawasan konservasi, lahan produktif, ruang budaya, maupun lingkungan yang menjadi daya tarik pariwisata.

    Selain itu, dibutuhkan investasi dan kerja sama antara pemerintah, PLN, pelaku usaha, masyarakat, serta investor. Pemerintah daerah telah membuka peluang kolaborasi dengan sektor swasta untuk mempercepat pengembangan PLTS.

    Energi Bersih dan Wajah Baru Pariwisata Bali

    Perubahan menuju energi bersih dapat menjadi bagian dari wajah baru pariwisata Bali. Wisatawan tidak hanya mencari pemandangan indah, tetapi semakin memperhatikan pengalaman yang bertanggung jawab terhadap lingkungan.

    Hotel dengan panel surya, kendaraan listrik, pengurangan plastik sekali pakai, pengelolaan sampah, serta kawasan wisata rendah emisi dapat menjadi bagian dari pengalaman wisata masa depan.

    Dengan potensi energi bersih sekitar 2.000 MW dan kebutuhan listrik yang berada di kisaran 1.300 MW, Bali memiliki peluang besar untuk mengembangkan sistem energi yang lebih mandiri.

    Jika pengembangan PLTS 1.000 MWp dapat berjalan sesuai rencana, ditambah sistem penyimpanan energi dan pengembangan sumber energi terbarukan lainnya, Bali memiliki peluang untuk mengurangi ketergantungan terhadap energi fosil.

    Pada akhirnya, Bali menuju pariwisata berkelanjutan bukan hanya tentang mempertahankan keindahan alam, tetapi juga memastikan bagaimana energi digunakan untuk menjaga kehidupan dan aktivitas ekonomi di Pulau Dewata.

    Energi bersih dapat menjadi fondasi penting bagi pariwisata Bali di masa depan. Dengan sinergi antara pemerintah, pelaku usaha, masyarakat, dan wisatawan, transformasi menuju destinasi wisata rendah emisi dapat berjalan seiring dengan pertumbuhan ekonomi.

    Bali memiliki kekayaan alam, budaya, dan pariwisata yang luar biasa. Tantangan berikutnya adalah memastikan seluruh kekayaan tersebut dapat dinikmati generasi mendatang dengan lingkungan yang tetap sehat, energi yang lebih bersih, dan pariwisata yang semakin berkualitas.

    Share to

    Related News

    Bali tetap jadi magnet wisata

    Bali Tetap Jadi Magnet Wisata dengan Kon...

    by Agu 26 2026

    Bali – Bali tetap jadi magnet wisata bagi wisatawan domestik maupun mancanegara. Keindahan alam, k...

    Paket Liburan Bali Murah 5 Hari, Nikmati...

    by Jun 30 2026

    Bali masih menjadi pilihan utama bagi banyak orang saat ingin berlibur. Pulau ini memiliki daya tari...

    Munduk Waterfall: Keindahan Alam dan Pes...

    by Apr 20 2026

    Bali dikenal di seluruh dunia sebagai tujuan wisata yang memikat hati, menawarkan berbagai macam kei...

    Pantai Melasti: Keindahan Alam dan Makna...

    by Apr 20 2026

    Pantai Melasti adalah salah satu destinasi wisata Bali yang paling terkenal, yang terletak di ujung ...

    Jatiluwih Rice Terrace, Pesona Sawah Ter...

    by Apr 16 2026

    Jatiluwih Rice Terrace adalah salah satu tempat wisata Bali yang paling populer dan selalu berhasil ...

    pura jagatnatha

    Pura Jagatnatha: Tempat Wisata Spiritual...

    by Apr 16 2026

    Pura Jagatnatha adalah salah satu tempat wisata terkenal di Bali yang wajib dikunjungi. Dibangun pad...

    No comments yet.

    Please write your comment.

    Your email will not be published. Fields marked with an asterisk (*) must be filled.

    *

    *

    back to top